Beranda > Budaya > Seni Pewayangan di Tengah Globalisasi

Seni Pewayangan di Tengah Globalisasi

Oleh: David Sastra

Kemajuan ilmu pengetahuan, budaya dan teknologi akan mendorong munculnya globalisasi kehidupan manusia. Hal ini karena manusia semakin bisa dalam mengatasi keterbatasan ruang dan waktu dalam kehidupan. Globalisasi telah menimbulkan dampak yang sangat berarti dalam berbagai dimensi kehidupan manusia. Malcolm Waters (Tilaar : 1997) mengemukakan bahwa ada tiga dimensi proses globalisasi, yaitu: globalisasi ekonomi, globalisasi politik, dan globalisasi budaya. Dari segi globalisasi budaya, muncul beberapa jenis space atau lukisan, seperti: etro-space, techno-space, finance space, media-space, idea-sapce dan sacri-sapce (http://educare.E-tkipunia.net). Dengan demikian universalisasi sistem nilai global yag terjadi dalam dimensi kebudayaan telah mengaburkan sistem nilai (value-system) kehidupan manusia.

Tidak dapat dipungkiri, globalisasi sedikit banyaknya berpengaruh negatif jika tidak disertai dengan usaha beradaptasi melalui peningkatan kualitas diri. Salah satu contohnya adalah kemerosotan moral bangsa yang dialami oleh bangsa Indonesia saat ini. Kemerosotan moral tidak hanya terbatas pada kota besar, melainkan telah merebak ke pelosok-pelosok desa. Masalah-masalah moral yang serius dihadapi oleh bangsa Indonesia. Antara lain menyangkut masalah kejujuran, kebenaran, keadilan, penyelewengan, adu domba, fitnah, menipu, mengambil hak orang lain, menjilat dan perbuatan-perbuatan maksiat lain. Lihat saja kerusuhan yang secara sporadissusul mengyusul di Republik ini, dan secara gamblang memperlihatkan praktik-praktik penyimpangan moral yang akut. Demikian juga halnya dengan masih merebaknya masalah tiga serangkai, kolusi-korupsi-nepotisme dan juga ulah-ulah profokator yang menebarkan benih permusuhan bernuansa sara (http://educare.E-tkipunia.net). Bahkan menurut hasil survei yang dilakukan Yayasan Kita dan Buah Hati, terdapat 80% anak-anak Indonesia terkontaminasi pornografi (http://tomootou.net).

Terjadinya hal-hal tersebut sesungguhnya bermuara pada terabaikannya nilai-nilai moral, edukasional, dan keagamaan dalam kehidupan nyata. Adanya panutan nilai, moral dan norma dalam diri manusia dan kehidupan akan sangat menentukan totalitas diri dari individu atau jati diri manusia, lingkungan sosial dan kehidupan individu. Seni merupakan cermin nilai-nilai dan norma-norma yang belaku dalam masyarakat, dan tak dapat dipungkiri bahwa seni selalu ada ketika adanya masyarakat. Pengembangan seni dan budaya sejalan dengan peningkatan kesadaran dan kemampuan masyarakat untuk mengangkat nilai-nilai budaya dan mengembangkan kebudayaan dengan tanpa meninggalkan nilai-nilai yang telah ada itu. Semakin meningkatnya kesadaran dan kemampuan masyarakat akan arti pentingnya kesenian, mendorong tumbuhnya kebanggan dan jati diri bangsa, sehingga pada gilirannya akan menumbuhkan ketahanan budaya bangsa.

Kesenian tradisional merupakan kesenian yang mengandung nilai-nilai moral dan etika yang yang mencerminkan identitas nasional bangsa Indonesia. Salah satu jenis kesenian tradisional yang sarat akan nilai moral dan etika adalah kesenian wayang kulit. Seni pewayangan mengandung nilai-nilai filosofis yang mengajarkan kebaikan tanpa menutupi kejahatan. Bahkan pada zaman dahulu kesenian wayang sering dijadikan sebagai ”guru” untuk menularkan nilai-nilai moral dan etika. Dalam cerita pewayangan, banyak nilai filosofi yang dapat dijadikan tuntunan atau sesuluh hidup (http://www.balipost.co.id).

Kenyataannya sekarang ini, kesenian wayang merupakan salah satu kesenian yang dapat dikatakan kurang eksis dalam kehidupan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh masalah kaderisasi, generasi muda yang berminat berkecimpung dalam bidang seni pedalangan kian langka. Contoh kecilnya saja, dalam kehidupan masyarakat Bali kesenian ini memiliki arti yang sangat penting, baik dalam konteks ritual keagamaan maupun sebagai seni tontonan bermuatan tuntunan nilai-nilai moral.

Generasi muda yang seharusnya merupakan generasi penerus yang berkewajiban untuk menjaga dan melestarikan kesenian tradisional ini  seakan melupakan kesenian tradisional dan identitas dirinya. Sudah bukan rahasia lagi apabila kesenian tradisional, dalam hal ini wayang, mulai ditinggalkan. Masuknya berbagai kebudayaan luar melalui berbagai media, terutama televisi, tidak sedikit ikut mempengaruhi kelunturan apresiasi kalangan muda terhadap wayang. Anak-anak muda malah lebih senang menggauli kesenian dan tradisi luar yang tidak jelas benar dari mana asalnya. Padahal, bukan tidak mungkin budaya yang digandrungi anak muda itu sama sekali tak mempunyai nilai positif. Cerita adiluhung di dalam wayang, seolah kehilangan daya magis, untuk menarik minat kalangan muda. Apa pasal, karena rangkaian cerita dalam epik wayang, tidak lagi dekat dengan kaum muda. Film – film Hollywood, Bollywood, atau sinetron yang bertebaran, lebih memiliki kedekatan cerita terhadap keseharian kaum muda, dibanding epik Mahabarata, atau kisah Rama Sinta.

Sebagai salah satu kesenian tradisional yang sarat akan nilai-nilai kearifan lokal yang mencerminkan identitas bangsa, maka upaya-upaya pelestarian seni wayang di kalangan generasi muda sangatlah penting dan harus segera dilaksanakan. Hal itu mengingat minat generasi muda yang sangat minim terhadap seni wayang dan lebih cenderung tertarik dengan kesenian maupun budaya-budaya asing

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: