ASURANSI ITU KEBUTUHAN

10 Desember 2015 Tinggalkan komentar

Asuransi itu Kebutuhan

Setiap orang bekerja untuk membangun aset. Aset bisa berupa rumah, kendaraan, usaha, dana untuk pendidikan anak, atau tabungan hari tua.

Selama masa membangun ini ada resiko yang bisa datang kapan saja untuk menghabiskan aset yang sedang atau yang sudah kita bangun. Kami menyebutnya dengan “Sakit Kritis” dengan jenisnya seperti stroke, kanker, serangan jantung, gagal ginjal, meningitis dan yang lainnya. Resiko ini tidak mengenal usia, tua muda bisa saja terjadi.

Ketika resiko itu harus terjadi, kita akan habis-habisan untuk bisa sembuh. Tapi biayanya tidaklah murah, ratusan juta sampai mpayungilyaran. Tidak ada yang bisa menjamin kita bebas dari resiko sakit kritis. Kita tidak pernah tahu kapan resiko akan terjadi. Jika kita harus menyiapkan ratusan juta ketika resiko harus terjadi, SIAPKAH kita?

Relakah kita menghabiskan aset yang sudah kita kumpulkan bertahun-tahun hanya untuk biaya pengobatan. Seharusnya apa yang kita kumpulkan, dapat kita gunakan untuk kebahagiaan keluarga dan impian kita.

Maka itu, tidak ada pilihan lain, kita harus menyiapkan dana cadangan untuk mengatasi dampak resiko, ketika resiko itu memang harus terjadi. Sehingga aset yang sudah kita bangun, rencana masa depan dan impian kita tidak akan hancur ketika resiko memang harus terjadi.

Dengan membayar premi 500 ribu/bln pada umur 25 th, dalam waktu 90 hari atau 3 bulan, kita sudah disiapkan dana cadangan dengan total 1,5 M ketika harus terjadi resiko. Plus kita punya saldo investasi yang bertumbuh dari tahun ke tahun.

Kita bisa memulainya dengan nilai yang nyaman sesuai dengan kemampuan finansial atau besarnya proteksi yang kita inginkan.

Konsultasi dan Informasi

I Putu David Sastra

Bisnis Eksekutif PT Asuransi Allianz Life Indonesia

Email : iputudavidsastra@gmail.com

FB : http://www.facebook.com/IPUTUDAVIDSASTRA

PANDUAN PERCOBAAN FISIKA (LISTRIK DAN MAGNET)

Pagelaran Budaya & Diskusi Publik “Membangun Budaya Politik Santun Menuju Good Governance”

Oleh Admin KMHDI. Kamis, 29 September 2011.

 

Sejak era Reformasi 1998 bergulir, muncul harapan baru untuk melihat Indonesia yang lebih baik. Masyarakat mulai membuka berbagai kran-kran demokrasi, ekonomi, politik, sosial, budaya dengan bebas tanpa kekangan. Hal ini dapat dimaklumi lantaran rezim sebelumnya tidak memberikan kesempatan dalam berekspresi dan aktualisasi baik dalam politik, ekonomi, maupun budaya.

Upaya reformasi disegala sendi kehidupan berbangsa dan bernegara tentu saja ada landasan semangat. Semangat yang didasari oleh kesadaran akan banyaknya hak-hak warga negara yang selama bertahun-tahun diabaikan, dilanggar, bahkan diinjak-injak oleh rezim yang berkuasa. Kerinduan akan demokrasi juga lahir dari adanya penolakan terhadap relasi-relasi kekuasaan yang angkuh dan represif, tentang relasi-relasi ekonomi yang timpang dan jauh dari rasa adil, serta tentang relasi-relasi sosial dangkal dan penuh ritual kolektif namun sangat merendahkan martabat manusia sebagai pribadi.

Demokrasi di Indonesia pasca reformasi masih berada dalam masa transisi, dimana berbagai prestasi sudah muncul. Hal ini ditandai dengan pemilihan umum yang diikuti oleh banyak berbagai partai politik, selain itu juga untuk pertama kalinya pada tahun 2004 Presiden dan Wakil Presiden dipilih secara langsung oeh rakyat. Diluar hal tersebut, kebebasan mengeluarkan pendapat dan menyampaikan aspirasi di masyarakat juga semakin meningkat. Para kaum tertindas mampu menyuarakan keluhan mereka di depan publik sehingga masalah-masalah yang selama ini terpendam dapat diketahui oleh publik. Pemerintah pun sangat mudah dikritik bila terlihat melakukan penyimpangan dan bisa diajukan ke pengadilan bila terbukti melakukan kesalahan dalam mengambil suatu kebijakan publik.

Di masa transisi, sebagian besar orang hanya tahu mereka bebas berbicara, beraspirasi, berdemonstrasi. Namun aspirasi yang tidak sampai akan menimbulkan kerusakan. Kebebasan inikemudian menjadi tameng untuk para politisi di negeri ini semakin merajalela mengeluarkan pendapat yang sifatnya kadang menjurus kearah yang negatif. Hal ini dapat terbukti dengan banyaknya para politisi yang terang-terangan mengeluarkan pendapat yang menyinggung orang lain dengan maksud menjatuhkan lawan politiknya tersebut.

Dewasa ini dunia politik tak lagi menjadi pembelajaran yang bermanfaat bagi masyarakat, apalagi  dalam hal beretika. Tak ada lagi pertimbangan mengenai moral, tak ada lagi nilai-nilai yang dapat diambil, dan tak ada lagi norma-norma yang harus diperhatikan. Kenyataanyang ada hanyalah kebebasan yang kebablasan.  Bahkan sekarang ini seorang Presiden saja bisa digosipkan oleh lawan politiknya. Selain itu  dalam hal kampanye pemilu ataupun pilkada juga kita sering melihat masing-masing kandidat seringkali  saling  menyindir  satu  sama  lain,  bahkan  tidak  segan untuk melakukan  pembunuhan  karakter  terhadap  lawan  politiknya. Hal inilah yang menjadi konsumsi publik yang tak ubahnya seperti infoteiment  yang  menebar gosip kemana-mana.  Gosip  yang  menjadi  hiburan bagi masyarakat sekaligus bahan tertawaan masyarakat  dan celaan  yang  tak pantas lagi dijadikan pelajaran.

Kurangnya pembelajaran terhadap etika politik inilah yang menyebabkan salah satunya berdampak pada hasil Pemilu/Pilkada dimana puncaknya pada tahun 2009, jumlah golput dalam Pemilu mencapai 49.677.076 orang. Hal ini merupakan sesuatu yang sungguh memprihatinkan, yang dapat dibayangkan bila etika politik tidak dijalankan dengan baik, tidak menutup kemungkinan bahwa jumlah suara golput kan semakin bertambah. Perlu adanya usaha untukmengambil langkah-langkah strategis demi mewujudkan budaya politik partisipan (demokrasi). Ini dilakukan untuk mendukung terbentuknya sebuah sistem politik yang demokratis dan labil.Dimana kepentingan dan aspirasi rakyat harus menjadi pusat perhatian dalam pengambilan kebijakan pemerintah.

Untuk itulah Pimpinan Pusat KMHDI menggelar Pagelaran Budaya dan Diskusi Publik yang terkait denga Pendidikan Politik untuk Generasi Muda yang bertindak sebagai pemilih pemula. Untuk Pelaksanaan kegiatannya PP KMHDI bekerjasama dengan Kementerian Dalam Negeri dalam hal ini Dirjen KESBANGPOL Kemendagri. Untuk teknis pelaksanaannya PP KMHDI bekerjasama PC KMHDI Denpasar & PC KMHDI Badung selaku Panitia Pelaksana Bersama. Kegiatan ini sendiri di selenggarakan di Aula Pasca Sarjana IHDN Denpasar.

Kegiatan Pagelaran Budaya & Diskusi Publik yang mengambil tema ”Membangun Budaya Politik Santun Menuju Good Governance” dibuka langsung oleh Direktur Politik Dalam Negeri, Drs. Endang Kusumajadi, MM. Dalam sambutannya beliau menyambut positif prakarsa KMHDI untuk melakukan kerjasama seperti ini dengan Kementerian Dalam Negeri untuk melakukan pendidikan politik (Voter Education) bagi generasi muda khususnya di Bali. Sebab saat ini kecenderungan meningkatnya Golput (golongan putih) dalam pemilu menjadi sebuah fenomena yang memprihatinkan dalam proses pembangunan demokrasi di negeri ini. Diharapkan dengan kegiatan seperti ini pemilih menjadi sadar akan hak dan kewajibannya dalam demokrasi.

Sementara itu kegiatan ini sendiri dibagi dalam dua sesi yaitu pagelaran budaya (pertunjukan Bondres) dan diskusi publik. Pertunjukan budaya dalam bentuk bondres sengaja di ambil untuk mengemas acara yang serius ini dalam bentuk yang lebih santai sehingga lebih mudah dicerna oleh para peserta seminar. Sedangkan diskusi publik juga tetap dilaksanakan dengan semi formil agar diskusi intelektualnya tetap muncul. Pembicara yang hadir pun cukup mampu menggiring opini peserta untuk memahami tujuan kegiatan ini yaitu pemahaman yang lebih mendalam terkait dengan Politik, Penggunaan Hak Pilih, maupun terwujudnya Good Governance dari berbagai latar belakang. Gede Pasek Suardika, SH.MH (Anggota Komisi II DPR RI) memberikan ulasan yang lugas tentang kondisi dan wajah lembaga politik dan parlemen indonesia saat ini. Beliau bahkan secara blak-blakan membuka penghasilannya sebagai anggota parlemen kepada peserta diskusi. Hal ini menurutnya adalah untuk membangun kesadaran politik bagi generasi muda Bali agar tidak semata-mata melihat polotik dengan sudut pandang yang tidak konprehensif.

Drs. Endang Kusumajadi, MM yang hadir selaku Keynote Speak memparkan bagaimana peranan pemerintah dalam hal ini Kementerian Dalam Negeri untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam berbagai pesta demokrasi. Sementara itu 2 pembicara lokal Bapak Sukaarjawa dan Gede Arya Sena turut melengkapi perspektif diskusi publik ini melalui kajian akademi dan budaya orang bali mengenai politik.

Antusias peserta sendiri perlu mendapat apresiasi lebih mengingat acara ini berlangsung dalam durasi waktu yang cukup panjang, mulai pukul 13.00 – 18.30 WITA, peserta masih bertahan dan mengikuti diskusi dengan serius. Rata-rata peserta yang hadir pun memberikan respon positif melaui kuisoner yang disebar panitia, semua mengisi dengan pernyataan-pernyataan yang positif. Akhirnya Pimpinan Pusat mengucapkan terimakasih atas kerjasama berbagai pihak sehingga acara ini dapat terlaksana dengan sukses. Semoga kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan lagi. Satyam Eva Jayate!

Job Fair KMHDI, 23-24 Juli 2011 @ Pura Aditya Jaya Rawamangun

JOB FAIR KMHDI bekerjasama dengan JobsDB Indonesia

Pura Aditya Jaya Rawamangun, 23-24 Juli 2011
Hanya Rp. 10.000,-

Untuk Rekan-rekan sekalian
Hadir dan siapkan CV kalian..

Impian yang menjadi nyata…

NGIRING MEKARYA…..

Satyam Eva Jayate

Kategori:Budaya

Rahina Sugian Jawa

gambar dari: inspirated-life.blogspot.comSugian Jawa jatuh pada Wraspati Wage, Wuku Sungsang, atau 6 hari sebelum Galungan. Pada hari ini, umat Hindu mengahturkan banten dan melakukan persembahyangan di pura dan sanggah/merajan, mengucapkan terima kasih atas segala karunia yang dilimpahkan dan memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar terjadi keharmonisan dan keseimbangan di Bhuwana Agung (alam semesta).

STUDI KOMPARATIF MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL REACT

STUDI KOMPARATIF

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL REACT DALAM PENCAPAIAN KOMPETENSI FISIKA KELAS X SMA NEGERI 2 BUSUNGBIU

TAHUN PELAJARAN 2010/2011

 

oleh

I Putu David Sastra

Jurusan Pendidikan Fisika

 

 

ABSTRAK

 

            Penelitian ini bertujuan (1) menguji ada tidaknya perbedaan pemahaman konsep dan kinerja ilmiah antara siswa yang belajar dengan menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation, Model Pembelajaran Kontekstual REACT, dan Model Pembelajaran Langsung, (2) menguji ada tidaknya perbedaan pemahaman konsep antara siswa yang belajar dengan menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation, Model Pembelajaran Kontekstual REACT, dan Model Pembelajaran Langsung, dan (3) menguji ada tidaknya perbedaan kinerja ilmiah antara siswa yang belajar dengan menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation, Model Pembelajaran Kontekstual REACT, dan Model Pembelajaran Langsung.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan rancangan nonequivalen pretest-posttest control group design. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 2 Busungbiu tahun pelajaran 2010/2011 yang terdiri atas 3 kelas dengan jumlah siswa 126 orang. Sampel penelitian terdiri atas 3 kelas dengan jumlah siswa 123 orang yang ditentukan dengan cara simple random sampling. Data pemahaman konsep dan kinerja ilmiah siswa dalam penelitian ini dikumpulkan dengan tes pemahaman konsep dan tes unjuk kerja. Teknik analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif dan MANOVA yang dilanjutkan dengan uji Least Significant Difference (LSD) untuk menguji komparasi pasangan gain skor rata-rata tiap kelompok perlakuan.

Hasil penelitian menunjukkan (1) terdapat perbedaan pemahaman konsep dan kinerja ilmiah yang signifikan antara siswa yang belajar dengan menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation, Model Pembelajaran Kontekstual REACT, dan Model Pembelajaran Langsung (F=15,094; p<0,05), (2) terdapat perbedaan yang signifikan pemahaman konsep antara siswa yang belajar dengan menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation, Model Pembelajaran Kontekstual REACT, dan Model Pembelajaran Langsung (F=16,582; p<0,05), dan (3) terdapat perbedaan kinerja ilmiah yang signifikan antara siswa yang belajar dengan menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation, Model Pembelajaran Kontekstual REACT, dan Model Pembelajaran Langsung (F=13,693; p<0,05).

Kata-kata kunci: model pembelajaran kooperatif tipe group investigation, model pembelajaran kontekstual REACT, pemahaman konsep, dan kinerja ilmiah.

Memaknai Perayaan Hari Saraswati

26 September 2010 Tinggalkan komentar

Perayaan Hari Saraswati merupakan wujud syukur dan bhakti umat Hindu kepada Tuhan Yang Maha Esa atas ilmu pengetahuan yang dianugerahkan kepada umat manusia.
Dalam Hindu dikenal Dewi Saraswati sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa untuk menganugerahkan ilmu pengetahuan ke dunia. Dewi Saraswati yang digambarkan sebagai seorang gadis cantik dengan berbagai atributnya melambangkan betapa indahnya ilmu pengetahuan.Penerapan ilmu pengetahuan telah membantu manusia untuk hidup selama berabad-abad. Dalam Hindu, ilmu pengetahuan merupakan penuntun dari kegelapan menuju pencerahan. Penuntun untuk melihat Sang Diri. Diri kita diibaratkan seperti sebuah cermin yang tertutup debu yang tebal, dan ilmu pengetahuanlah yang membantu mengikis debu itu. Sehingga kita akan dapat melihat apa yang ada pada cermin itu, apa yang ada pada diri kita, yang tiada lain adalah Sang Diri. Melalui perayaan Hari Saraswati ini, mari kita bersyukur, dan terus menimba ilmu pengetahuan, terus mengikis debu yang menutup cermin, untuk menuju pencerahan. Santih