Beranda > Ekonomi > Penyebab Krisis Pangan Indonesia

Penyebab Krisis Pangan Indonesia

Krisis pangan dewasa ini telah menjadi suatu masalah pelik yang telah menghambat bangsa ini untuk bergerak kearah kemajuan.Adapun penyebab krisis pangan yang terjadi di Indonesia adalah sebagai berikut:

  • Waktu Usaha Tani

Dalam sektor pertanian, selama ini waktu dianggap sebagai masalah dalamproduksi karena lamanya menunggu, mulai dari pembibitan dilakukan sampai pada waktu memperolaeh hasil. Kalau umur padi mulai dari benih sampai panen mencapai empat bulan, petani harus menunggu sambil merawat tanaman sedemikian rupa sesuai dengan anjuran teknologi teknologi yang direkomendasiakan, atau sesuai dengan teknologi yang mampu diserap atau mampu diterapkan petani. Sebenarnya bukan waktu yang menjadi masalah tetapi adalah subfaktor yang berada dalam waktu penantian itu sendiri. Dalam menunggu tanaman tumbuh sampai menghasilkan kiata   harus memperhatikan perkembangannya, bagaimana pertumbuhannya, apakah ia butuh unsure hara atau pakan, dan apakah ia perlu dipangkas, disiangi atau perlu obat. Hal inilah yang sering diabaikan oleh petani di Negara kita sehingga hasil panen yang diharapkan tidak memuaskan.sehingga akibatnya meluaskan pada krisis pangan yang terjadi sekarang   ini.

  • Biaya Usaha Tani

Dalam usaha tani dikenal dua macam biaya, yaitu biaya tunai atau biaya yang dikeluarkan dan biaya tidak tunai atau biaya yang tidak dibayarkan. Biaya Yang dibayarkan adalah biaya yang dikeluarkan  untuk membayar upah tenaga kerja luar keluarga, biaya untuk pembelian input produksi seperti bibit, pupuk, obat-obatan. Biaya seringakali menjadi masalah bagi petani, terutama dalam pengadaan input atau sarana produksi. Karena kurangnya biaya yang tersedia tidak jarang petani mengalami kerugian dalam usaha taninya. Dari segi teknis dan pengetahuan, sebagian besar petani kita sudah memahami fungsi teknologi yang mereka peroleh  dari surat kabar, radio, televise, penyuluhan, sarasehan, pendidikan tidak formal, selebaran-selebaran, dan atau dari hasil obrolan di warung kopi. Mereka sudah menyadari pentingnya teknologi, tetapi kendalanya adalah modal. Teknologi yang benar dan tepat menghendaki biaya yang cukup tinggi dan harus tersedia tepat waktu pula, tetapi masalahnya sebagian besar petani di Indonesia tidak mampu untuk membiayai usaha pertanian meraka secara maksimal sehingga hasil yang diperoleh pun tidak memuaskan.

  • Tekanan Penduduk

Sejarah mencatat salah satu isi buku Malthus (1808), yang membahas tentang tekanan penduduk sehubungan dengan upaya pemenuhan kebutuhan pangan. Disana disebutkan bahwapertumbuhan penduduk menyerupai sebuah deret ukur sementara peningkatan produksi menyerupai deret hitung. Artinya pertumbuhan penduduk jauh lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan produksi. Semakin lama petumbuhan tersebut akan menjadi masalah kalau tidak dilakukan upaya-upaya yang dapat mengatasinya. Walaupun teknologi sudah ditemui dan dianggap sementara dapat mengatasi masalah tekanan penduduk, tetapi teori Malthus harus tetap diwaspadai.

  • Sistem Usaha Tani yang Masih Terbelakang

Sistem usaha tani mengandung pengertian pola pelaksanaan usaha tani masyarakat yang berkaitan dengan tujuannya. Secara umum, tujuan utama pertanian atau usaha tani yang diterapkan sebagian petani di Indonesia adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga (pola subsistence). Hal ini berarti belum sepenuhnya bertujuan untuk dijual ke pasar (market oriented) seperti halnya usaha tani di Negara-negara yang telah maju. Dengan pola subsistence tersebut pertanian kita lambat berkembang dan upaya pemacuan produksi tidak dapat berjalan lancar dan produktif.

  • Kerusakan Sumber Daya Alam

Kerusakan sumber daya alam akan menjadi pangkal tolak kerusakan sisi kehidupan lainnya. Maka pembangunan tidak hanya mengutamakan kepentingan ekonomi saja, tetapi seharusnya juga mengutamakan kepentingan lingkungan dan sosial. Sekarang ini banyak kita jumpai bahwa areal pertanian mati pada saat musim kering. Hal ini disebabkan karena tempat penyerapan air hujan yaitu hutan, sudah tidak berfungsi secara optimal. Hutan di Indonesia sudah banyak yang rusak karena penebangan secara liar maupun karena kebakaran hutan sehingga cadangan air untuk musim kering menjadi hilang. Akibatnya lahan pertanian menjadi kering dan berdampak pada krisis pangan.

  • Rendahnya Penerapan Teknologi Budidaya

Tampak dari besarnya kesenjangan potensi produksi  dari hasil penelitian dengan hasil di lapangan yang diperoleh oleh petani.  Hal ini  disebabkan karena pemahaman dan penguasaan penerapan paket teknologi baru yang kurang dapat dipahami oleh petani secara utuh sehingga penerapan teknologinya sepotong-sepotong (Mashar, 2000).  Seperti penggunaan pupuk yang tidak tepat, bibit unggul dan cara pemeliharaan yang belum optimal diterapkan petani belum optimal karena lemahnya sosialisasi teknologi, sistem pembinaan serta lemahnya modal usaha petani itu sendiri.  Selain itu juga karena cara budidaya petani yang menerapkan budidaya konvensional dan kurang inovatif seperti kecenderungan  menggunakan input pupuk kimia yang terus menerus, tidak menggunakan pergiliran tanaman, kehilangan pasca panen yang masih tinggi 15 – 20 % dan memakai air irigasi yang tidak efisien. Akibatnya antara lain berdampak pada rendahnya produktivitas yang mengancam kelangsungan usaha tani dan daya saing di pasaran terus menurun.  Rendahnya produktivitas  dan daya saing komoditi tanaman pangan yang diusahakan menyebabkan turunnya minat petani untuk mengembangkan usaha budidaya pangannya, sehingga dalam skala luas mempengaruhi produksi  nasional.

  • Alih Fungsi Lahan Pertanian

Rendahnya produktivitas  dan daya saing komoditi tanaman pangan yang diusahakan menyebabkan turunnya minat petani untuk mengembangkan usaha budidaya pangannya, sehingga dalam skala Sulitnya melakukan peningkatan produksi pangan nasional antara lain karena pengembangan lahan pertanian pangan baru tidak seimbang dengan konversi lahan pertanian produktif yang berubah menjadi fungsi lain seperti permukiman.  Lahan irigasi  Indonesia sebesar 10.794.221 hektar telah menyumbangkan produksi padi  sebesar  48.201.136 ton dan 50 %-nya lebih disumbang dari pulau Jawa (BPS, 2000). Akan tetapi mengingat padatnya penduduk di pulau Jawa keberadaan lahan tanaman pangan  tersebut terus mengalami degradasi seiring meningkatnya kebutuhan pemukiman dan pilihan pada komoditi yang memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi seperti hortikultura.  Jika tidak ada upaya khusus untuk meningkatkan produktivitas secara  nyata dan/atau membuka areal baru pertanian pangan sudah pasti produksi pangan dalam negeri tidak akan mampu mencukupi  kebutuhan  pangan nasional.

  • Kurang Optimalnya Peranan Koperasi – Koperasi yang Ada di Pedesaan

Koperasi pertanian yang ada di desa semastinya memiliki peranan yang sangat penting dalam hubungannya dengan keberadaan pangan di negeri ini. Sebagai koperasi yang sehat dan mampu mensejahtrakan anggotanya, koperasi semestinya dapat memberikan modal untuk pertanian kepada petani dan dapat menyerap hasil pertanian dengan harga yang sesuai pada musim panen untuk diperoleh lebih lanjut. Namun kenyataannya tidaklah demikian, koperasi pertanian desa dan pertanian gagal menyalurkan kredit pertanian karena prosedurnya yang dianggap berbelit-belit dan adanya uang yang diselewengkan oleh oknum-oknum pengurus koperasi itu sendiri.

  • Kurangnya Motivasi dari para Petani

Masalah yang penting dalam menggerakkan usaha tani bukanlah sekedar penyediaan kredit saja atau perbaikan sisitem penyaluran. Tetapi usaha mendorong motivasi petani agar berani berusaha dengan menanggung resiko adalah lebih penting. Seperti kita ketahui petani-petani pada umumnya masih belum berani berusaha dengan menanggung resiko. Akibatnya fasilitas permodalan yang disediakan kadang-kadang tidak dimanfaatkan. Ketidakberanian petani menanggung resiko ini adalah karena mereka belum dapat menafsirkan atau memperkirakan sejauh mana keberhasilan usahanya kelak dengan resiko yang ditanggumg.Hal inilah yang merupakan salah satu penyebab mengapa panen sering gagal yang  berakibat pada masalah krisis pangan.

Kategori:Ekonomi
  1. 29 November 2011 pukul 21:42 | #1

    salam kenal. boleh tau sumber artikel tersebut? trims

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: