Beranda > Hindu > Perkenalan dengan Veda dan Panca Sradha

Perkenalan dengan Veda dan Panca Sradha

Disusun oleh : Made Surya Putra, Ketua Dept Litbang PP KMHDI 1999-2002

Perkenalan denganWeda

Monopoli pengajaran weda yang telah dilakukan oleh para leluhur kita di Indonesia telah mengakibatkan suatu kondisi pembodohan yang luar biasa. Seorang peneliti orientalis, Sylvain Levi menyatakan bahwa “Apa yang oleh para pedanda di Bali disebut dengan Catur Weda adalah 4 bait dari Narayana Upanisad yang pada akhir tiap-tiap bagian berisi kata sirah, sehingga sering disebut dengan Catur Weda Sirah”. Rangkaian mantram tersebut pada bentuk asalnya bernama “narayanatharvasiropanisad” yang aslinya terdiri dari 5 bait mantram, namun di Bali hanya diketahui sebanyak 4 bait yaitu “etad Rgveda siro dhite, etad Yajurveda siro dhite, etad Samaveda siro dhite,  etad Atharvaveda siro dhite”

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada tahun 1849 oleh seorang sarjana Belanda, R, Freiderich, ditulis tentang keberadaan veda di pulau Bali. Ia memberikan gambaran bahwa para pandita memiliki manuscript yang sangat penting dan dirahasiakan. Menurutnya, tanpa sempat melihat langsung, manuscript tersebut adalah 4 buah samhita yang ditulis oleh Bhagavan Byasa. Namun setelah penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Brumund dan Kern, ditemukan bahwa yang disebut Veda tersebut adalah mantram-mantram berbahasa sansekerta yang bercampur dengan bahasa Jawa Kuno, yang berisikan mantram ritual beserta penjelasannya yang bersifat mistis dengan latar belakang Saivisme dengan warna Tantrik.

Yathemam vacam kalyanim avadani janebyah

Brahma rajanyabhyam sudraya caryaya

Ca svaya caranaya ca

Yajurveda XXVI.2

Hendaknya disampaikan sabda suci ini kepada seluruh umat manusia, cendikiawan-rohaniawan, raja-pemerintah-masyarakat, para pedagang-petani-nelayan-buruh, kepada orang-orangku dan kepada orang asing sekalipun.

Weda bukanlah sebuah kitab suci yang menakutkan, atau sebuah kitab suci yang akan menyebabkan hal-hal yang buruk bagi pembacanya. Weda adalah sebuah buku tentang pengetahuan teologis, Filosofis, ritual dan banyak lagi lainnya.  Yajurweda sendiri telah mengatakan bahwa ajaran weda harus disampaikan dan bukannya disimpan atau dimonopoli kebenarannya oleh hanya satu golongan.

Kata Veda dapat dikaji dari 2 pendekatan yaitu etimologi dan semantik. Kata veda berasal dari urat kata kerja Vid yang berarti “mengetahui” dan Veda yang berarti “pengetahuan”. Dalam pengertian semantik, Veda berarti pengetahuan suci, kebenaran sejati, kebijakan tertinggi  atau pengetahuan spritual sejati tentang kebenaran abadi. Sebagai sebuah sumber pengetahuan, Veda telah eksis jauh sebelum dimulainya hitungan tahun masehi. Maurice Winternitz dalam bukunya A History of Indian Literature Vol 1, (1927) mengatakan bahwa Veda adalah pustaka monumental tertua Indo-Eropa. Demikian pula menurut Bloomfield, dalam bukunya The Religion of Veda, yang mengatakan bahwa susastra Veda jauh lebih tua dibandingkan dengan sastra Yunani ataupun Israel.

Sastra veda menggunakan bahasa sansekerta. Pada awalnya nama bahasa “Sansekerta” ini dipopulerkan oleh Maharsi Panini, yang selain menggunakan nama baahsa Sansekerta, juga menyebut bahasa Weda dengan “daivivak”, yang artinya bahasa dewata. Beberapa tahun berikutnya, Maharsi Patanjali menulis buku kritik terhadap karya Maharsi Panini yang makin menyempurnakan bahasa sansekerta. Seorang penulis lainnya adalah Katyayana, yang di Indonesia dikenal dengan nama Rsi Wararuci  dengan salah satu kitabnya yang telah diterjemahkan di Indonesia  yaitu Saracamuccaya.

Setelah melalui perjalanan yang demikian panjang, bahasa Sansekerta kemudian mengalami beberapa perubahan mendasar, dimana telah timbul sub-sub bahasa Sansekerta. Ada tiga jenis bahasa Sansekerta yang dikenal saat ini.

  1. Sansekerta Weda, (Vedic Sanskrit) yaitu bahasa Sansekerta yang digunakan dalam Weda
  2. Sansekerta Klasik, (Classical Sanskrit) yaitu bahasa sansekerta yang digunakan dalam kitab-kitab Hindu yang berusia lebih muda dari Weda seperti Itihasa, Purana, Smrti dan lain sebagainya.
  3. Sansekerta Campuran (Hybrid Sanskrit), adalah bahasa sansekerta yang telah mendapat pengaruh yang kuat dari bahasa-bahasa lokal. Di Indonesia dan Asia Tenggara, berkembang bahasa Sansekerta Kepulauan (Archipelago Sanskrit) yang banyak terpengaruh oleh bahasa Melayu.

Penelitian terhadap bahasa Sansekerta sebenarnya telah dilakukan lama sebelumnya. Pada awal abad XVII di Eropa telah dimulai usaha-usaha untuk mempelajari Bahasa Sansekerta, dengan motif Zending ajaran Kristen dan Katolik. Beberapa diantara mereka adalah Dr. Max Muller, Weber, Sir William Jones, HT. Colebrooke dan banyak lagi yang lain. Yang memprihatinkan, tidak ada satupun diantara penelitian tersebut yang ditujukan untuk mengembangkan Hindu.

Dalam seluruh sastra Hindu, Weda menempati posisi yang tertinggi. Diyakini demikian karena hanya Weda yang diwahyukan sejak mulai adanya pengertian waktu.  Dari weda kemudian mengalir kepada buku-buku yang lain. Terhadap pengertian ini, Swami Dayananda Saraswati mengatakan, Rgveda, Yajurveda, Samaveda dan Atharwaveda adalah sabda dari Tuhan. Acuan dari pemikiran ini adalah

Tasmad Yajnat sarvahuta

Rcah samani jajnire

Chandami jajnire tasmad

Yajus tasmad ajayata

Yajurveda XXX.7

Dari Tuhan Yang Maha Agung dan kepadanya umat manusia mempersembahkan berbagai yadnya dan daripadanya muncul Rgveda dan Sama veda. Daripadanya muncul yajurveda dan Samaveda.

Dalam proses pewahyuan Weda tersebut, ada beberapa cara yang dikenal, diantaranya adalah :

  1. Svaranada, gema yang diterima oleh para Rsi yang kemudian menjadi sadba Tuhan yang kemudian disampaikan kepada murid-muridnya.
  2. Upanisad, pikiran para Rsi dimasuki oleh sabda Brahman dan berfungsi sebagai penghubung dalam kondisi pendidikan “Param-para”
  3. Darsana atau Darsanam, dimana para Rsi berhadapan secara rohani dalam suatu situasi gaib yang bersifat spiritual.
  4. Avatara, yakni manusia yang berhadapan dengan awataranya, seperti Arjuna dengan Sri Krsna dalam Bhagavadgita

Weda memiliki beberapa nama lain, diantaranya adalah :

  1. Kitab Sruti, yang menunjukkan bahwa weda adalah kitab wahyu
  2. Kitab Catur Veda, yang menunjukkan bahwa Weda adalah kitab yang merupakan himpunan (Samhita) dari Rgveda, Yajurveda, Samaveda dan Atharvaveda. Bila dilihat dari isinya sesungguhnya weda dapat dibagi atas dua jenis yaitu Rg dan Atharva, karena Yajur dan Samaveda isinya berasal dari Rg.
  3. Kitab Rahasya, yang artinya weda mengandung ajaran yang bersifat rahasia. Rahasia disini mengandung pengertian ajaran ketuhanan tentang penciptaan, moksa dan lain-lain.
  4. Kitab Agama, yang berarti bahwa kebenaran yang dikandung weda adalah mutlak dan harus diyakini kebenarannya.
  5. Kitab Mantra, nama ini dinerikan karena weda memang berbentuk himpunan mantra dan kidung.

Weda sendiri memiliki beberapa karakteristik yaitu :

  1. Weda tidak berawal, karena merupakan sabda Tuhan, sehingga telah ada sebelum alam diciptakan
  2. Weda tidak berakhir, karena berlaku sepanjang jaman
  3. Veda Apauruseyam, yang artinya tidak disusun oleh manusia biasa

Perlu ditegaskan disini bahwa weda pada awalnya diterima secara lisan, dan diteruskan juga secara lisan. Proses penyusunan kitab weda dalam bahasa literer, dimulai oleh Krsnadvapayana atau dikenal juga dengan nama Maharsi Vyasa. Beliau dibantu oleh 4 orang siswanya yaitu Pulaha atau Paila yang diyakini menyusun Rgveda, Vaisampayana yang menyusun Yajurveda, Jaimini yang menyusun Samaveda dan Sumantu yang menyusun Atharvaveda.

Sedangkan rsi-rsi yang dihubungkan dengan proses pewahyuan weda pada awalnya dikenal dengan kelompok Saptarsi. Adapun saptarsi dan gotra sapta rsi yang paling banyak disebut dalam proses ini adalah :

  1. Rsi Grtsamada, yang banyak disebut dalam hubungannya dengan turunya wahtu-wahyu pada Rgveda Mandala II.
  2. Rsi Visvamitra, yang dikaitkan dengan seluruh Mandala III Rgveda.
  3. Rsi Vamadeva, yang dikaitkan dengan Mandala IV Rgveda
  4. Rsi Atri, yang berhubungan dengan Mandala V Rgveda. Dalam keluarga (Gotra) Rsi Atri disebut bahwa terdapat 36 orang penerima wahyu.
  5. Rsi Bharadvaja, yang banyak dikaitkan dengan turunnya Mandala VI Rgveda, kecuali beberapa bagian yang berhubungan dengan nama Sahotra dan Sarahotra.
  6. Rsi Vasistha, yang bayak berhubungan dengan Mandala VII Rgveda. Dalam kisah Mahabrata, rsi ini juga sering disamakan dengan Rsi Visvamitra.
  7. Rsi Kanva, yang merupakan nama pribadi dan nama keluarga yang banyak dikaitkan dengan mandala VIII Rgveda. Adapun mandala IX dan X adalah kumpulan wahyu yang diterima oleh beberapa Rsi yang lain. Mandala X adalah yang paling lengkap.

Weda yang dituliskan dalam bahasa sansekerta, memiliki suatu bentuk yang khusus dalam penulisannya. Bentuk penulisan kidung weda disebut dengan Chanda. Ini adalah suatu istilah yang sama dengan metrum (Wirama) yaitu suatu aturan tentang jumlah suku kata di dalam sebuah baris dan sebuah mantram Weda. Jumlah suku kata yang dihitung adalah suku kata yang konsonannya diikuti huruf svara (Vowel) termasuk pula huruf aspirat (visarga = h) dan suara sengau (anusvasra = m). Baris mantram weda juga ditentukan oleh irama berat ringan dan panjang pendek yang disebut Guru dan Laghu. Secara tradisonal, metrum-metrum tersebut dibedakan atas 2 jenis yaitu yang biasa dan yang yang panjang.

Yang biasa :                                                                              Jml Suku Kata

  1. Gayatri………………………………………………    24 (8+8+8)
  2. Usnih………………………………………………..    28 (7+7+7+7)
  3. Anustubh……………………………………………    32 (8+8+8+8)
  4. Brhati……………………………………………….     36 (9+9+9+9)
  5. Pankti……………………………………………….    40 (8+8+8+8+8)
  6. Tristubh……………………………………………..    44 (11+11+11+11)
  7. Jagati………………………………………………..    48 (12+12+12+12)

Yang panjang :

1.       Atijagati……………………………………………..    52 (12+12+12+8+8)

2.       Sakvari………………………………………………   56 (8+8+8+8+8+8+8)

3.       Atisakvari……………………………………………    60 (16+16+12+8+8)

4.       Asti…………………………………………………..   64 (16+16+16+8+8)

5.       Atyasti……………………………………………….   68 (12+12+8+8+8+12+8)

6.       Dhrti…………………………………………………   72 (12+12+8+8+8+16+8)

7.       Atidhrti………………………………………………   76 (12+12+8+8+8+12+8+8)

Selain metrum-metrum yang standar, weda juda mengenal berbagai variasi dari metrum tersebut. Penjelasan mengenai hal ini akan sangat panjang, akan lebih baik apabila pembaca membaca buku I Made Titib, Veda Sabda suci. Isi Veda sangat beragam, namun pada dasarnya Veda membicarakan pengetahuan yang bersifat sangat mendasar.

Ko addha veda ka iha pra vocat

Kuta ajata kuta iyam visrstih

Arvag deva asyavisarjanenatha

Ko veda yatha abhuva

Rgveda X.129.6

Siapakah sesungguhnya mengetahui, siapakah yang mampu menjelaskan, dimanakah ia lahir dan darimanakah ciptaan itu berasal ?. Sesungguhnya  para dewata belakangan dari terciptanya alam ini. Siapakah yang mengetahui asal dari ciptaan ini

Veda membicarakan tentang konsep ketuhanan, yang dalam bahasa veda adalah deva atau devata. Pengertian “deva atau devata” disini tidak sama dengan pengertian “dewa” dalam bahasa Indonesia. Swami Dayananda Sarasvati mengatakan arti atau makna kata dewa itu melingkupi dua makna yang sama. Perbedaan antara Dewa (Tuhan) dengan Deva (para Deva) adalah, seluruh dewa atau devata menerima sinar dari Tuhan, sedangkan Tuhan memancarkan sinarnya sendiri. Beraneka dewa dalam Hindu itu adalah untuk memudahkan membayangkan Tuhan dalam berbagai manifestasinya. Mengenai Keesaan Tuhan, Yajurveda mengatakan :

Yo ‘asav aditye purusah

So asav aham. Om Kham Brahma

Yajurveda XI.17

Spirit yang terdapat di matahari itu adalah Aku. Om (nama-Ku) memenuhi seluruh alam semesta.

Tentu timbul sebuah pertanyaan, berapakah dewa yang ada dalam weda. Kitab Rgveda dan Atharvaveda menyebut 33 dewa yang merupakan manifestasi dari Tuhan. Ke-33 dewa tersebut, adalah 8 Vasu, 11 Rudra, 12 Aditya dan ditambah dengan Indra serta Prajapati.

Yasya trayastrimsad deva ange sarva samahitah

Skambham tam bruhi katamah videva sah

Atharvaveda X.7.23

Siapakah yang sedemikian banyak itu, ceritakan kepadaku, tidak lain adalah Tuhan yang meresapi segalanya, yang pada dirinya dikandung seluruh 33 dewa sebagai kekuatan alam.

Bila kita membaca lebih lanjut mantram lainnya dari Rgveda, maka kita akan mengetahui bahwa jumlah dewa dalam Veda tidaklah hanya 33, namun sebanyak 3339. hal ini dijelaskan oleh Rgveda

Trini sata tri sahasranyagnim trimsancca

Deva nava casaparyan auksan ghrtairastrnan

Barhirasma adiddhotaram nyasadyanta

Rgveda III. 9.9

Adalah tiga ribu tiga dewa, tiga puluh sembilan dewata yang memuja agni (Tuhan). Yang telah menyebarkan rumput suci dengan minyak yang dicipratkan dan mengangkat mereka sebagai pandita dan pelaksana yadnya.

Diantara dewa-dewa tersebut, Rgveda menggambarkan Surya sebagai dewa yang tertinggi dengan mantram.

Udvayam tamasaspari jyotis pasyanta uttaram

Devam devatra suryamaganma jyotiuttamam

Rgveda I.50.10

Lihatlah menjulang tinggi diangkasa, cahaya yang terang benderang mengatasi kegelapan telah datang. Ia adalah Surya, dewa dari seluruh dewa, cahayanya yang terang itu betapa indahnya.

Surya yang dimaksud disini bukanlah “Surya Bola Matahari” namun devata tertinggi. Didalam veda, dewa pada dasarnya adalah nama lain atau bentuk lain dari Surya (Tuhan), dan devi adalah aspek feminim dari devata. Kata “Devi” mengandung makna fajar di pagi hari. Dewa dan dewi dalam weda sering digambarkan secara Anthrophomorphic (berwujud seperti manusia dengan beraneka keunggulan dan kelebihannya, yang disertai dengan kendaraan dan binatang-binatang yang menarik kendaraan tersebut). Dalam praktek persembahyangan hanya beberapa dewa yang secara umum dipuja, hal ini adalah karena pada jaman Upanisad, telah terjadi peralihan fungsi dari sedemikian banyak dewa menuju bentuk Trimurti sebagaimana yang dikenal pada saat ini. Didalam konsep Trimurti yang paling banyak dipuja adalah Brahma, Visnu dan Siva.

Dalam pembahasan model-model dewa yang ada diatas, dapat diketahui bahwa veda menganut konsep  Monisme atau sebagaimana yang dikatakan oleh David Frawley, “Satu dalam segalanya dan segalanya dalam yang satu”. Namun harus dikritisi pula bahwa selain menganut Monisme, weda juga menganut Monotheisme Transcendent dan Monotheisme Immanent. Penjelasan mengenai tiga istilah tersebut akan dijelaskan dibawah ini, disertai dengan berbagai model teologi lain yang tidak dianut oleh weda.

  1. Animisme, keyakinan akan adanya roh, dan segala sesuatu didiami dan dikuasai oleh roh yang berbeda-beda.
  2. Dinamisme, keyakinan akan adanya kekuatan alam, kekuatan ini dapat berupa personal atau non personal.
  3. Totemisme, keyakinan akan adanya binatang keramat yang sangat dihormati.
  4. Polytheisme, keyakinan akan adanya banyak Tuhan.
  5. Natural Polytheisme, keyakinan akan adanya banyak Tuhan yang menjadi penguasa atas segala aspek alam.
  6. Henotheisme atau Kathenoisme, Max Muller mengemukakan hal ini ketika mempelajari weda. Ini adalah suatu model keyakinan terhadap terjadinya pergantian kekuasaan tertinggi diantara dewa-dewa.
  7. Pantheisme, keyakinan bahwa dimana-mana dan apapun adalah Tuhan.
  8. Monotheisme, keyakinan akan adanya satu Tuhan
    1. Monotheisme Transcendent, keyakinan yang memandang Tuhan jauh dari ciptaannya, diluar dari ciptaannya
    2. Monotheisme Immanent, keyakinan yang memandang Tuhan sebagai penguasa tertinggi berada diluar ciptaannya sekaligus berada didalam ciptaannya
  9. Monisme, keyakinan akan adanya Tuhan yang merupakan hakekat alam, dan segala hal berada didalam-Nya.

Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, teologi weda adalah Monisme, Monotheisme Transcendent dan Monotheisme Immanent. Dalam pandangan Monotheisme Transcendent, Tuhan selalu muncul dalam bentuk  Personal sedangkan dalam model Monotheisme Immanent, Tuhan digambarkan sebagai Impersonal God. Selain membahas tentang konsep ketuhanan, weda juga membahas beberapa hal lain yang oleh Maurice Winternitz dikategorikan sebagai berikut.

  1. Samhita, yaitu mantra weda yang mengandung mantra Upasana, ajaran filsafat, tata susila, pendidikan dan lain-lain
  2. Brahmana, yakni uraian panjang mengenai teologi, terutama observasi tentang jalannya upacara yadnya.
  3. Aranyaka dan Upanisad, terkandung ajaran mengenai filsafat Hindu dan meditasi.

Selain kitab-kitab Sruti diatas, dikenal juga Wedangga, Upaweda, Upangaweda, Smrti, Dharmasastra,  Itihasa, Purana, Agama, Tantra dan Darsana. Semua kitab yang lain tersebut adalah bagian penjelas atau pelengkap dari kitab-kitab Sruti yang mampu menjelaskan dengan lebih komprehensif isi dari kitab sruti.

Masih cukup banyak aspek dari Weda yang belum dibahas dalam tulisan ini, namun demikian diharapkan penjelasan yang sedikit ini mampu menggugah kader-kader KMHDI untuk terus menggali ajaran-ajaran Hindu. Pembahasan berikutnya adalah mengenai Panca Sradha.

Panca Sradha

Asal kata dan pengertian. Secara estimologi kata sradha berasal dari akar kata “srat” atau “srad” yang berarti hati, disambung dengan kata “dha” yang artinya meletakkan. Sehingga arti keseluruhan adalah meletakkan hati seseorang pada sesuatu. Ada pula yang mengartikan “srat” sebagai kebenaran (Yaskarya : Niganthu), dan sradha adalah sikap pikiran yang didasarkan pada kebenaran.

Interpretasi yang lain dari Prof. DR. K.L. Seshagiri Rao dari Universitas Punjab adalah

  1. Kerinduan akan suatu tujuan akhir.
  2. Percaya akan adanya suatu “sarana” dalam pencapaian tujuan tersebut.

Kedua Rumusan ini akan digunakan sebagai dasar pembahasan.

Dalam kitab-kitab Brahmana. Tujuan manusia adalah untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di surga. Jalan terbaik untuk mewujudkannnya adalah dengan yadnya. Digunakan sistem perantara dalam pemujaan yadnya dengan menggunakan mantra-mantra pendeta. Digunakan sistem timbal balik daksina atas jasa-jasa pendeta. Tidak dikenal sistem pengekangan moral bagi umat karena doktrin upacara yadnya dan peran pendeta yang hegemonik. Sifat pelaksanaan upacara adalah formal, eksternal dan impersonal.

Dalam kitab-kitab Upanisad. Tujuan akhir umat adalah moksa. Sarana pencapaian adalah perenungan, meditasi, yoga dengan bimbingan guru yang Brahmanistha. Pengorbanan yang dilakukan adalah pengorbanan ke”aku”an dari unsur diri yang paling dalam. Bentuk ritual adalah tapa (pengekangan diri dan kesederhanaan) serta prasadha (anugrah tuhan).

Dalam kitab Bhagawadgita. Tujuan tertinggi adalah manunggal dengan Tuhan, saat hidup maupun saat telah meninggalkan badan jasmani. Sarana pencapaian adalah dengan Niskamakarma Yoga yaitu pelaksanaan kewajiban tanpa pamrih, tanpa keakuan, dengan cinta kasih, bhakti dan pasrah pada tuhan. Selain konsep diri yang imanen, juga dikenal konsep diri yang transendental.

1. Brahman

Brahma jajnanam prathanam purastat

Atharvaveda IV.1.1

Tuhan adalah yang pertama dari yang ada di alam semesta.

Asal kata dan pengertian. Akar kata “brh” yang berarti menjadi besar dan kuat. Kata ini kemudian berevolusi dan berkembang sehingga menjadi beberapa arti, seperti roh universal tunggal, yang mutlak, yang abadi dll. Sebagai puncaknya adalah adanya pengakuan akan ke-esa-an tuhan yang meliputi segalanya.

Dalam ajaran Hindu, kata Brahman menunjukkan konsep ke-tak terbatasan. Sebagai penjelasan atas Brahman, dikenal konsep Tri Suparna yang mengkategorikan pemahaman Brahman pada tiga bentuk. Bentuk pemahaman yang pertama adalah Brahman yang mutlak yang terlepas dari ciptaan apapun, dalam bentuk ini ia disebut dengan Brahman. Bentuk pemahaman yang kedua adalah Brahman yang bermanifestasi pada alam semesta, dalam bentuk ini ia disebut dengan Wiraj. Bentuk pemahaman dimana Brahman dianggap sebagai roh yang bergerak dimanapun juga di jagatraya ia disebut dengan Hiranyagarbha. Apabila ditambahkan pemahaman Brahman yang berpribadi dan mengambil peran sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur maka ia disebut dengan Iswara yang diwujudkan dalam bentuk ritual pemujaan Tri Murti.

Untuk memudahkan pengertian tentang Brahman, dibuat ukuran-ukuran tertentu yang lebih mudah dipahami oleh orang kebanyakan. Namun ada masalah besar dalam penentuan ukuran-ukuran tersebut. Hal ini terjadi karena setiap ukuran yang dibuat akan bersifat ambivalen. Ukuran-ukuran yang ditujukan untuk menunjukkan ke-tak terbatasan, justru menjadi batasan bagi Brahman. Untuk memudahkan dalam kehidupan ritual, dikenal dua model penggambaran Tuhan yaitu Nirguna Brahman (Tuhan tanpa atribut) dan Saguna Brahman (Tuhan dengan atribut).

Nirguna Brahman sangat sulit dipuja oleh orang kebanyakan, sehingga dinyatakan sebagai “Neti neti” (bukan ini, bukan itu). Karena itu dalam hampir semua sastra Weda, Tuhan digambarkan sebagai Saguna Brahman. Segala sifat dan atribut yang dikenakan pada Brahman pada dasarnya adalah sebagai pendekatan kearah ke-tak terbatasan-nya.

Dalam kitab Narayana Upanisad diterangkan Tuhan dengan nama Narayana,

“Narayana ewedam sarwam yadbutham yacca bhawyam niskalanko niranjano nirwikalpo nirakhyatah suddho dewo eko narayano na dwi tiyo sti kascit”.

Semuanya adalah narayana, baik keberadaan yang ada ini maupun yang akan ada, Narayana hanyalah satu yang tanpa dosa, tak berubah dan tak dapat digambarkan, yang murni dan ilahi, yang tak ada duanya.

Nama tidaklah penting dalam konsep Brahman, sebagaimana yang dinyatakan dalam Rg Weda

“Indram mitram warunamagnimahur”

“Atho diwyah sa suparno garutman”

“Ekam sad wipra bahudha wadanty”

“Agnim yamam matarisvanam ahuh”

Rgveda I.164.46

Mereka menamakannya indra, mitra, waruna, agni dan garutma yang bersayap indah. Karena para bijak terpelajar menyebut yang satu itu dengan banyak nama, dimana yang mulia juga disebut dengan yama (yang menakdirkan) dan matariswan (nafas kosmis).

Pada dasarnya ada dua konsep penting tentang Brahman yang harus dikuasai oleh setiap anggota KMHDI yaitu konsep Brahman yang monotheis dan konsep Brahman yang Acintya (tak terpikirkan, ke-tak terbatasan)

2. Atman

Kata Atman, diambil dari kata “an” yang berarti bernafas. Setelah secara bertahap diperluas, maka artinya kemudian menjadi meliputi kehidupan, roh, sang diri dan inti dari pribadi. Dalam sastra-sastra Weda disebutkan bahwa pengertian Atman, tak dapat dipisahkan  dari pengertian Brahman. Karena adanya pembatas yang fana maka Atman terlihat berbeda dengan Brahman. Atman adalah prinsip kesadaran pribadi dan Brahman adalah prinsip kesadaran semesta. Begitu kesadaran murni timbul pada manusia, perbedaan antara keduanya akan lenyap dan keduanya akan menjadi identik. Tuhan selain sebagai sesuatu yang mengatasi kategori manusia, juga sekaligus masuk dan hidup di dalam manusia.

Sariram brahma pravis at

Sarire adhi prajapatih

Atharvaveda XI.8.30

Tuhan Yang Esa memasuki tubuh manusia dan Dia menjadi raja atas tubuh itu.

Atman adalah unsur abadi pada manusia, ia merupakan suatu bagian yang tidak terlahirkan sebagaimana ia tidak pernah akan mati. Pengertian  Atman tidak boleh dicampur adukkan dengan pengertian badan, unsur kehidupan, pikiran atau kecerdasan.

Na mrtyave-ava tasthe kadacana

Rgveda X.48.5

Jiwa tidak bisa dihancurkan (kekal)

Hubungan antara atman dan Brahman kiranya dapat dijelaskan dengan salah satu sloka dalam Rgveda.

Dva suparna sayuja sakhaya

Samanam vrksam pari sasvajate

Tayor anyah pippalam svadu-atti

Anasnan anyo abhi cakasiti

Rgveda I.164.20

Ada dua ekor burung (jiwa individual dan jiwa yang agung) yang dipersatukan dengan ikatan persahabatan, yang tinggal dalam pohon yang sama, salah satu dari mereka (jiwa individual) menikmati buah matang yang manis (karma) sedangkan yang lainnya (jiwa yang agung) menyaksikan segalanya tanpa menikmati buahnya.

Dan yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa bukan hanya manusia yang diresapi oleh Brahman, hewan dan tumbuhanpun dilingkupi oleh-Nya.

Mahad brahmayena prananti virudhah

Atharvaveda I.32.1

Tuhan adalah sumber kehidupan di dalam tanam-tanaman dan tumbuhan rempah

Semua pengertian tentang logika dan yang terpikirkan bukanlah Atman. Semua pengertian tersebut hanya melingkupi pengungkapan luar dari “Diri Sesungguhnya”, yang merupakan suatu kesadaran diri dan keberadaan diri yang murni. Atman dalam pengertian yang sesungguhnya adalah diri sejati yang mutlak. Ia bukan suatu kategori fisika dan juga bukan suatu kategori metafisika abstrak. Ia adalah diri spiritual yang sejati. Dalam hubungannnya dengan manusia sebagaimana yang umum dipahami sebagai mahluk biologis dan psikologis, maka Atman harus dipandang sebagai sesuatu yang mengatasi dua kondisi ini. Implikasi lebih lanjut dari konsep Atman sangat luas, seperti Tat Twam Asi, Ahimsa dan lain sebagainya.

Terdapat suatu perbedaan pengertian yang mendasar dalam konsep Roh agama-agama timur tengah apabila dibandingkan dengan konsep Atman di  Hindu. Konsep Roh menyatakan bahwa tubuh memiliki roh yang akan meninggalkan tubuh pada saat kematian badan biologis. Fokus pada konsep ini adalah pada badan biologis. Sedangkan dalam konsep Atman, disebutkan bahwa Atman memiliki tubuh biologis dan pada saat kematian badan biologis, Atman masih tetap eksis. Fokus dalam konsep ini adalah pada Atman.

Sebagai dasar bagi anggota KMHDI, perlu dikuasai konsep keterkaitan Atman dengan Brahman, serta perbedaan konsep roh dengan konsep Atman.

3. Karma

Kata Karma berasal dari kata “kri” yang berarti berbuat atau bekerja. Pengertian berbuat disini adalah perbuatan secara biologis maupun psikologis. Secara teknis kata ini juga dapat diartikan sebagai akibat dari perbuatan.

Konsep Karma harus dipahami sebagai manifestasi akumulasi perbuatan. Karma seseorang bukan ditentukan oleh satu atau dua perbuatan besar, tapi oleh setiap gerakan, setiap degup jantung, setiap kilasan pemikiran dsb. Tidak ada sesuatupun yang tidak berubah dalam dimensi ruang dan waktu karena itu tidak ada sesuatupun yang tidak terikat pada hukum Karma.

Agham astu aghakrte

Sapathah sapathiyate

Rgveda V.12.5

Orang yang berdosa menderita dari dosanya sendiri. Orang yang mengutuk menderita dari kutukannya sendiri.

Karena ikatan Karma pada selubung Atman, maka Atman tidak dapat mencapai pelepasan yang sempurna. Untuk itu selubung Atman harus melakukan langkah-langkah tertentu yang akan membebaskan Atman dari keterikatannya.

Tava sariram patayisnu-arvan

Yajurveda XXIX.22

Adalah jiwa yang bergerak, tubuh manusia adalah fana

Sebuah penawaran yang diberikan oleh sastra-sastra Weda adalah dengan melakukan perbuatan-perbuatan tanpa pamrih. Melakukan kegiatan tanpa ikatan, tanpa rasa benci, tanpa rasa senang, tanpa rasa marah, tanpa rasa pamrih sedikitpun. Tanpa ikatan pada kerja yang dilakukan, seorang manusia akan dapat mencapai diri yang mutlak dan lepas dari ikatan Karma.

Adhursata svayam ete vacobhir

Rjuyate vrjinani bruvantah

Rgveda X.12.5

Orang-orang yang tidak berjalan lurus seperti aku akan dihancurkan oleh karena kesalahan-kesalahan mereka sendiri

4. Punarbhawa

Punarbhawa adalah konsep lanjutan dari konsep Karma dan Atman. Penjelasan lebih lanjut harap dilakukan oleh para pendidik dan warga didik dalam acara Kaderisasi Tahap I.

5. Moksa

Moksa adalah konsep lanjutan dari konsep Karma, Atman dan Brahman. Penjelasan lebih lanjut harap dilakukan oleh para pendidik dan warga didik dalam acara Kaderisasi Tahap I


//

  1. 6 Januari 2011 pukul 11:05

    Selamat, semakin banyak blog hindu semoga sradha bhakti umat semakin tinggi, kalau bersedia mari bertukar link agar Dharma sastra semakin luas

  2. 27 Mei 2011 pukul 02:26

    hmm… ternyata sucita suka bergentayangan sana-sini… hehehe…

  3. 20 Januari 2012 pukul 23:33

    hehehe… trmkakasih untuk informasinya,,,,
    http://www.kupunyablogspot.blogspot.com

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: